Selasa, 27 Desember 2011

cerpen One alma ( task bu e istii )


BROKEN HOME
Nada-nada music clasic berhenti berdenting, menarikku kembali ke dunia nyata. Mengusik mimpiku, menggeliyat. Bergidik, mengumpulkan semua kekuatanku yang sebentar lagi akan rapuh. Ku menyembulkan bad cover nightmare kesayanganku. Sembari membuka kelopak mataku.
Kriiing........ kriiing........kriing...
Deringan telepon itu membuat darahku mengalir lebih cepat. Tanganku meraih handle pintu dan melongokan kepalaku mencari tanda-tanda kehidupan.
“biii ........Bi Ijaaaaahhh.......”” teriak ku
“ia non, aya naon..??” jawab bi Ijah ( Terdengar suara tergopoh–gopoh langkah Bi Ijah menghampiriku)
“Bi.. angkat teleponya. Berisik tau !!!” perintahku (Aku mentup pintu keras-keras sambil menunggu laporan dari bibi)
“ Buat nyonya , non !” terik Bi Ijah.
Pupil mataku melebar, degup jantungku seakan berhenti berdetak.
Kenapa lagi-lagi mama...
***
Sekarang aku terlihat cantik mengenakan switter ungu pemberian ayah. Ayah,aku kangen banget sama ayah (batinku ). Aku melangkahkan kakiku menuruni anak tangga, menghampiri meja makanku dengan sarapan yang sudah tersedia untukku. Wanita itu datang, menyeret perlahan bangku yang ada dihadapanku dan ikut duduk bersamaku. Dia hanya tersenyum tipis kepadaku dan memulai sarapannya.
“mahh.. “ kataku ragu
“ia sayang, ada apa ?” tanya mama
“ma, sekarang kan hari minggu. Mama anterin ikke latihan nge dance yuk, nah abis itu kita jalan-jalan. Lagian mama kan juga libur ...” ajakku
“aduh sayang, maafkan mama . Mama nggak bisa nemenin kemu . Kan mama ada meeting dengan clien mama dan ini sangat penting ngga bisa ditunda, sayang “
“tapii..............”
Errrrthhhhh...erthh.erthhhh ( dering handphone itu lagi )
Sial, mama sama sekali nggak menghiraukanku. Wanita ini sibuk bicara dengan orang asing seberang sana. Dasar wanita yang mementingkan materi, sampe anaknya sendiri aja ga diperhatiin. (gumamku) Aku merasa hidupku kosong. Aku terhenti dari lamunanku ketika mama mengecup keningku tanpa berbisik sepatahpun. Ia tenggelam, menhilang entah kenapa.
***
Aku mengendarai mobil silver metalic peninggalan papaku. Seandainya ayah masih ada di dunia ini, pasti aku nggak akan sendiri kaya gini dan ayah pasti mau nemenin aku. HuH... Gue kaya anak sebatang kara ..(keluhku). Gerbang terbuka lebar, mereka semua ternyata telah menantiku sejak tadi. Ku parkirkan mobilku denagan senyum menyeringai. Aku segera mulai latihan, tapi syangnya hanya sebentar. Tiba-tiba seorang cowok dengan postur tubuh lumayan tinggi bergabung  ditengah-tengah kami.  Joe, sang leader membisikkan sesuatu pada pria itu. Dan semuanya bersorak-sorai. Ku memperhatikan gerik cowok itu, dan ternyata cowok itu menunjukan aksi breakdance di depan kami semua. Dan gue akuin sumpah, keren banget ! Ternyata ini yang menyebabkan latihan Cuma sebentar apa gara-gara gue yang telat. Emntahlah. Aku menuju dapur kecilku, membuka kulkas dan meneguk air mineral yang menenangkan kerongkonganku. Mataku terbelalak, meliahat pesan kecil yang ditempelkan di depan pintu kulkas.
Sayang, mamapulangnya agak telat. Maaf ya mama nggak bisa nemenin kamu makn malam. Oya, kalau kamu butuh seseuatu, panggil aja Bi Ijah. Okey sayang
Love u....
Lemas seluruh tubuhkupori-poriku terasa melebar dan semakin melebar. Kapn mamaaa bisa meluangkan waktunya untukku. Ayaha, aku benci   ini semua.Aku ingin kasih sayang dari seorang ibu, sebentar saja, Itu suah cukup buat ku.
Ddddddderrthh.. errrthh. Derth... ( handhpone ku berdering ). Ku buka sebuah pesan nomer tak dikenal. Hah,OMG.
                                                                                                                                               
***
Aku berlari cepat menuju kelas. Tubuhku tarasa ringan, karena hari ini aku sangat senang. Aku cepat merapat bergabung bersama  kawan-kawanku. Mungkin wajahku terasa asing bagi mereka, karena mereka memperhatikan dengan tampang yang aneh.
“ woii, loe ngga napa-napa kan” tanya Bara
“haha.. ia tumben loe ceria banget. Abis dapet durian jatoh ye,bagi-bagi dong !” ledek ayu beserta anggukan della dan anti
“dasar loe, pada ngidam durian ye?”
“ hehe, tau ajah lo . Udah ah, cerita donk ma kita-kita ?” bujuk della
“Gini girls, lo tau kan cowok yang kemaren dance di bascame. Arsyah,  Dia tiba- tiba sms gue and ngajakin gue hang out . Padahal gue kemaren nggak kenalan ko sama dia, dari mana coba dia tau nomer gue?”
Hening sesaat, mereka semua mentapku memasang wajah cemberut. Aku terdiam, kami semua membisu. Aku bingung, tapi untungnya ayu mulai bicara walau dengan nada sedikit lirih
“ selamat ya, tapi lo hati-hati aja bergaul ama ARSYAH “
Guru berkacamata dan bergigi behel itu tiba-tiba datang, dan serentak semua anak kelasku mengambil tempat masing-masing dan memulai pelajaran.
***
Hubunganku dengan Arsyah semakin akrab, berbanding terbalik dengan kehidupan rumahku. Aku dan mama semakin menjauh,walaupun dalam satu atap. Tapi seakan kami dibatasi dengan tembok besar yang sangat kokoh. Hidupku terasa hampa, dan hanya tatapan kosong yang ku dapat. Sebagai wanita karir mama tak bisa membagi waktunya untuk putri tunggalnya dan semuanya harus kuterima begitu saja. Ya, karena ini memang sudah menjadi takdir yang Tuhan ciptakan untukku. Pikiranku kacau, segera ku keluar mengambil kunci mobilku. Melaju menuju sekolahku AMY BOARDING SCHOOL, namun sekolah itu nampak sepi. Padahal aku inging menghempaskan kesalku dengan melahap nasi goreng ternikmat yang pernah kurasakan. Kuterus melajukan kan ban mobilku sampai terhenti di sudut tempat. Dari kejauhan ku memincingkan mataku, memprhatikan sesuatu yang sekiranya membuat ku tertarik. Ternyata seorang wanita bersama seorang pria sebayanya keluar dari sebuah cafe kecil itu. Mataku terus tajam melihat mereka. Akutersontak kaget, ternyata wanita itu adalah mama.
Shit, dengan siapa mama disana. Mesra-mesraan lagi (gumamku). Perasaanku kesal sekali, segera kuputar balik ban mobilku dan pulang. Kenyataan yang baru saja kulihat menguras isi perutku. Dan semuanya telah berujung pada ganja yang kuhisap setiap harinya. Dan keresahanku semuanya kualihkan pada botol-botol mention dan sejenisnya. Semuanya sudah menjadi teman bagiku. Setip malam ku bersembunyi, mengendap-endap keluar rumah menghidupkan laser motor menuju club malam. Arsyah dan duniakku saat ini, benar benar meluapkan masalahku akan semuanya. Mereka mengerti dan membuat tenang kehidupanku. Walaupun aku sedikit aneh, tapi akhirnya aku menjadi terbiasa dengan ini semua. Aku merasa bebas bahkan terlindungi tanpa sosok mama, tanpa campur tangan wanita yang sudah ku anggap sebagai iblis. Ternyata inilah maksud perkataan ayu waktu itu.
Dan semuanya belum berakhir, sampai saatnya diriku melayang tergopoh-gopoh menuju neraka itu. Alkohol telah merasuki tubuhku. Kesadaranku tak bisa dikendalikan. Namun ragaku terkumpul kembali saat air itu menimpa wajahku dengan kasar. Aku merasa lebih segar, apalagi saat aku memuntahkan seluruh isi perutku di baju wanita iblis itu tanpa ku sadari.
Otakku bekerja, mataku terbelalak lebar spontan bulu kudukku berdiri.
“pplaaaaaaaaaaaaakkkkkkk” ( suara tamparan itu keras menghantam tepat pada pipi kananku).
Aku mendorong mama keras dengan seluruh sisa kekuatanku. Amarahku menyeruak, ku hantam mama dengan melemparnya boneka tedy bear kado ulang tahunku dari mama dan papa. Mama terseret keluar kamar dan berhenti kemudian menatapku. Aku kembali menjawab tatapan mata itu, ku lihat secercah cahaya masih terpancar dari bola matanya. Ku perhatikan dengan seksama, mata itu meneteskan air mata. Tapi amarah tetap mengelilinggi jiwaku saat itu. Ku melempar high heels yang masih melekat di kakiku tepat mengenai daun pintu dan tertutup dengan kencang.
***
Mataku sembab, langkahku gontai mengendalikan kaki ini menuruni aturan anak tangga. Aku mengumpulkan kekuatanku mencari kesegaran dengan melangkah ke taman. Ku hirup oksigen sebanyak banyaknya dan menghempaskan asap-asap yang telah merasuki paru-paruku. Gara-gara itu semua fisikku terasa kaku seperti ini. Ternyata kehidupan rumah ini masih sama, tiada yang berubah hanya kesepian yang memenuhi. Ku mengitari taman rumah ini, mengingat masa laluku saat aku ayah dan mama berkumpul. Aku berputar tepat mengenai pendengaranku pada suara ketukan irama sepatu itu. Aku mengenali suara itu dan ku teliti dengan seksama sampai  bayangannya menghilang dari hadapanku.
“shit, ternyata wanita itu sama sekali nggak peduli sama gue “ kesal ku
                                                                        ***
Arsyah lagi-lagi mengantarku pulang ssat mabuk. Pintu itu berkali kali diketuk, tapi tak ada respon. Suaranya memekikan telingaku. Aku kesal, ku buka pintu itu sampai ku terjatuh di lantai. Mata ku berputar, kepalaku mendongak disambut uluran tanganArsyah yang mengajakku berdiri. Kakiku berhenti di meja makan, aku tersontak kaget begitu juga dengan arsyah. Mama bermesra-mesraan dengan seorang pria di meja makan tempat biasanya ayah duduk dan makan bersama bersama kami. Siapa pria itu, beraninya dia mengambil hati mama. Aku ngga akan pernah rela siapapun menyentuh mama. Mereka akhirnya menyadari keberadaan kami, wajah mereka pucat seperti kehilangan akal. Aku merasa akan ada pertempuran dahsyat malam ini. Sungguh, kali ini aku benar benar benci sama mama. Aku rasa lingkaran syetan yang penuh dengan api telah mengelilingi rumah ini.
“mama, apa-apaan ini? Eh loe, pergi lo dari rumah ini, pria nggak tau malu “
Mata mama tajam melirikku
“kke.. kamu jangan sembarangan ngomong kaya gitu sama om. Kamu kira kamu siapa. Emang kamu fikir kamu pantas berduaan dengan cowok, mabuk-mabukan lagi, Mau jadi apa kamu ??”
Spontan aku melepaskan rangkulan tanganku di pundak Arsyah                                                                                                                        
“Oh, jadi mama lebih memilih orang kaya dia dibanding anak mama sendiri. Semuanya nggak akan seperti ini kalo ngga gara-gara mama, mama tega !”
“.........”
“pergi kamu ..!!” bentak mama sambil menujukan telunjuknya kearah pintu keluar.
Tangisanku meledak mengisi seluruh sudut ruangan. Perih banget rasanya diusir dari rumah oleh mama sendiri. Aku berlari dan terus berlari tanpa membawa apapun, hanya pakaian yang melekat  di tubuhku. Arsyah mengejarku dan bersedia menerimaku untuk tinggal dirumahnya untuk sementara waktu. Aku seperti orang bodoh yang kehilangan akalnya. Botol-botol berserakan, penampilanku berantakan dan benar-benar brutal. Aku prustasi dengan kenyataan yang kuterima.
Sebulan lamanya aku tinggal bersama Arsyah dan dunia kelamku. Semuanya indah, tapi guratan sembab di mataku terlihat jelas. Ku mengendarai mobilku dengan sempoyongan. Rute ini ku ambil untuk mempercepat perjalanan. Ku pacu dengan kecepatan tinggi. Sekejap sebuah truk tepat berada di depan mobilku. Cahayanya merabuni mataku, ku belokan setirku  mencoba menghindar dan kehilangan kendali. Ku banting setir dan mobilku melayang jatuh kedalam jurang. Aku terpental , menimpa ujung batu yang tepat mengenai pelipisku sampai akhirnya aku tak sdar.
***
Mataku perlahan membuka, ku putar bola mataku menghadap setiap sudut ruangan. Badanku terasa remuk semua, sakit ini menusuk sampai bagian rahangku. Kepalaku sangat pusing, rasanya diriku berputar di tempat ini. Aku tak sanggup membuka mataku lebar-lebar, jantungku berdebar cepat. Aku tak tau apa yang terjadi dan aku hanya bisa mendengar suara sekelilingku.
“Anak ibu telah overdosis, asupan alkoholnya telah memenuhi lambung nya “ tukas dokter kepada mama yang telah duduk disampingku. Dan kemudian yang ku tahu dokter itu bergegas keluar dari ruang rawatku.
Tuhan apakah aku masih bisa tertolong. Aku masih ingin menggenggam tangan mama. Maafkan aku ma.. Aaagggggghh... Dadaku terasa semakin sesak. Sakit sekali, tubuhku makin terasa sakit. Aku tak sanggup melawannya. Aku merasa sebagian ruhku menghilang. Sakit sekali, rasanya lebih dari sakitnya kuku yang dicabut paksa dari jari jemarinya. Tubuhku terkulai lemas, mataku tertutup perlahan.
Mama panik melihat keadaanku yang ia sadari bahwa aku sudah tak ada di dunia ini. Wanita itu bingung harus berbuat apa, tiba-tiba jantungnya berkontraksi dengan cepat. Dada mama terasa sesak, ia tak bisa menahan rasa sakit yang menyerangnya. Darahnya mengalir begitu cepat, ia tak sempat memanggil dokter kembali. Ku rasa mama sekarat. Ia terkulai, jatuh tergeletak di lantai. Tak kuat menahan tubuhnya untuk tetap berada disampingku. Ia terus menahan sakit dengan diterpa dinginnya lantai. Ya, sakit yang ia rasakan sama seprti yang kualami, mama sekarat.
“ ikke, maafkan mama nak.”.. lirihnya
Wajah mama pucat pasi, sekujur tubuhnya dingin. Sampai akhirnya mata mama tertutup untuk selamanya secara perlahan.  Dan aku yakin, aku akan mendapatkan kasih sayng mama di surga nanti.selamat tinggal ma ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar