Kerupuk,kerupuk, kerupuk ! Kletikan mantap yang paling pas buat temen sarapan pagi, makan siang, sore bahkan pas dinner bareng pacar sekalipun. Renyah, gurih, pokoknya nendang banget.
“Kleengggggggg” bunyi jatuhnya tutup kaleng. Terlihat sesosok balita lebih satu setengah tahun memandangi sebuah wadah yang tak berpenghuni. Raut wajahnya tiba-tiba berubah 100 %, sejelek-jeleknya semburat di lekuk bibirnya.
“Mana isinya? Mana kerupuknya? Siapa yang makan, siapa yang makan??” Meronta-ronta hampir kehabisan oksigen. Aku yang duduk tepat di layar monitor, melirik sembari tersenyum kecut dan melanjutkan makanku. Menyembunyikan piringku yang penuh dengan kerupuk tanpa merasa bersalah. Oh tidak, aku telah mendzolimi dirinya hanya karena sebuah kerupuk (batinku).
Kerupuk, kerupuk, kerupuk ! Cemilan faforit keluarga yang takkan pernah tergantikan. Cemilan heritage , merupakan makanan yang paling di agungkan dan wajib tersedia di meja makan. Mulai dari kerupuk warna, minyak, gendar, palembang, candra, ataupun kerupuknya tukang bubur ayam, ketoprak, lotek bahkan abang bakso. Pokoknya yang bersangkutan dengan kerupuk apapun labelnya, dari mana di olahnya, dimana ngedapetinnya, berapapun harganya yang penting enak, gurih, mantap, sadap dan sesuai dengan ukuran kantong pastilah habis diburu.
****
“Wah, enak mba ini masakannya. Kapan-kapan ajari istri saya masak yo mba ...” ucap mas Oji.
“Oh iki mah gampang masaknya dan pasti lebih enak apalagi .. . ..” terputus suara kakak iparku. Melihat respon El-Qi anaknya yang berstatus sebagai keponakanku sang balita lebih satu setengah tahun. Tanpa aba-aba tangannya menyadong dihadapan wajah uminya meminta sebuah kertas rupiahan. Tanpa di komando, kakinya gesit keluar menggoes sepedanya menyusuri warung-warung demi sekantong kerupuk. Sedangkan kami dirumah menunggunya dengan gelak tawa yang menggelegar.
O kerupuk ! Kecintaanku pada kerupuk sudah mendarah daging. Cita rasanya?, bentuknya yang serba unik dan suaranya yang menggoda “ Kriiuuk, krenyess krenyess “ wuih mantap. Takkan sepi tanpa kerupuk. Bahkan gendang telinga ini terus setia berkontraksi seirama dentingan kerupuk.
Dari sebuah kerupklah aku belajar kehidupan. Yang semula kerupuk itu terlahirkan kaku, apa adanya, lemah ataupun lembek (iuhh) namun setelah diceburkan kedalam minyak yang mendidih yang sesuai dengannya ataupun dimasukkan kedalam butiran butiran pasir yang panas kemudian dibolak-balik , di koleh koleh, ditunggu tingkat kematanggannya. Kerupuk yang semula keras, kaku, ataupun lembek, tipis kemudian berevolusi menjadi tampak lebih besar, mengembang dan bentuknya terlihat lebih indah berkelok-kelok begitupun warnanya semakin menggoda.
Begitulah Hidup, manusia yang terlahirkan suci dari rahim ibunya, belum mengetahui apa apa, bahkan ia tidak bisa melihat apapun, kecuali merasakan kasih sayang ibunya. Dan manusia pastilah mengalami pertumbuhan begitupun diiringi dengan perkembangan. Perlahan-lahan ia mengetahui siapa dirinya, mengenal sekelilingnya dan memahami lingkungannya. Dan manusia akan terus selalu berkembang. Ia dapat mengenal jati dirinya, mengetahui bakatnya, Ia belajar dan terus belajar untuk menggali potensinya, seirama dengan kelokan kelokan indah sebuah kerupuk dengan warnanya yang menggoda. Sampai pada titik krenyahan “Kriuuk, krenyes krenyes “ disitulah manusia mendapati siapa sebenarnya dirinya dan untuk apa ia ada. Tapi ketika kerupuk tadi dibiarkan begitu saja, tanpa penutup tanpa wadah. Kerupuk itu akan kehilangan kerenyahannya. Tidak sedap dipandang apalagi di makan. Alot, melempem ! Begitu juga dengan manusia. Jika ia mulai mengenal kehidupan dirinya dan terus berkembang hingga sampai dia mencari siapa jati dirinya, namun ia kelelahan. Ia tidak tahu apa bakatnya bahkan ia merasa putus asa, lemah, tak mau belajar (arti kehidupan ini). Ia tak punya pendirian, tak punya wadah, tak punya pondasi, tak punya penutup sebagai pelindung. Keimanannya rapuh. Dan ia telah melupakan akan adanya ia karena apa, siapa dan kenapa. Dan untuk seterusnya ia akan alot dan melempem !
*******
Braaakkkkkkkk
Aku terkaget kaget melihat keponakanku pulang tanpa membawa sekantong kerupuk, jangankan sekantong satu buah kerupuk pun tak ada digenggamanyya. Padahal sudah sekian lamanya aku menunggu kedatangannya. Balita lebih satu setengah tahun itu bukannya membawa kerupuk yang diinginkan malah membawa sebuah kalung mutiara yang sudah tergantung dilehernya itu.
“Umiii .. kerupuknya habis jadi aku beli kalung ini deh , baguskan ?” Fiuh! Seluruh urat saraf kami melemas bersamaan. Senyummku tersungging melebar. Kini aku mengerti, Sepahit apapun hidup yang kita jalani. Kita enggak boleh putus asa. Selama apapun kita menempuh, yakinlah kita bisa dengan terus belajar. Denagan rasa syukur kepada Sang pencipta dan keikhlasan serta senyum yang terus melebar dibibir.
Yakinlah ! Kesuksesan, kebahagiaan akan kita raih dan akan kita genggam .
Entah bagaimanapun nanti wujudnya pastilah akan terasa manis dan “ kriukk krenyesh krenyesh “ .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar