Markotop di Penjare Suci
Bismiilahi bawihi badana
Walau ‘abadnaa ghoiru lasyaqina
Wahabadza muhammadun hadina.....
Lantunan indah
asmaul husna terdengar lirih terekam dalam microfon. Kalimat suci yang
menggema, mengaagungkan namaNya. Memecahkan keheningan. Burung-burung pun turut
berdzkir disertai sirine kokokan ayam jago memberi code bagi para santri dan
manyarakat bhwa tanda fajar akan tiba.
Banguun......Ayo
Banguuuuun.........Subuuuhh !!!!
Suara teriakan
sang pengurus ibadah menggema ke seluruh penjuru. Dari pintu ke pintu setiap
kamar di gedornya, membangunkan para santri yang masih nyaman bermain dengan
mimpinya.
Semuanya
dengan sigap mengambil air wudhu. Bagi yang bangunnya kesiangan tak akan dapat
bermanja-manja dengan sejuknya air pagi hari, bahkan mereka harus lari
terbirit-birit sebelum kumandang adzan terakhir selesai. Begitulah peraturan
dalam pesantren ini. Seluruh santri harus berada dalam mushollahnya untuk
berdzikir bermunajah kepada Sang Illahi sambil menunggu sholat berjamaah dimulai.
Dan mereka yang masih berleha-leha tentu akan di ta’zir. Bagi mereka
tempat ini adalah penjara suci.
***
Jum’at pagi
yang cerah. Lantunan suci surah yasin pun telah usai. Sang waktu terusbergulir,
hingga sirine pengurus kebersihan pun
berguncang .
ROAN.......ROAAAAAAANNNNNNNN........
AYO ROAAAAAAAAN !!!
Suaranya
terdengar nyaring lewat munasah besar itu. Urutan nama disebutnya satu persatu,
tersusun secara teratur. Jadwal absen kegiatan roan sebagai bukti bahwa para
santri mencintai dan selalu menjaga kebersihan persantrennya. Dimulai dari dari
menyapu halaman, membersihkan seluruh kamar mandi, tempat menjemur, mushollah
dan terutama kamar mereka sendiri.
“Zur...Zuurr
...... Kamu lihat Zur tidak ? Zuriati ?”
“Tidak mba
Aisyah, memang siapa ? .” Jawab kedua santri itu kompak, sambil memperhatikan
mba aisyah yang masih celingukan.
Tinggi
semampai berkerudung biru dengan paras yang tidak teramat cantik namun dengan
hidungnya yang melebar membuat dirinya terlihat lebih anggun. Menenteng tasnya.
Tatapannya fokus terhadap mas-mas pembawa catering yang mengantarkan sarapan
pagi bagi santri putri.
“Oalah Zuuur...
Kamu ngapain disitu ? Sini naik !” Tugas mba aisyah
Dengan sigap
langkah kaki none betawi itu menaiki anak tangga.
“Wulan, Mia.
Ini adik sepupuku pindahan mau mondok disini. Kamarnya bersama kalian ”
“kenalin aye
zuriati ...”
****
“ Akhirnya dah
beres semuanye” Leganya sambil mengusap butiran keringat yang mengucur di
dahinya.
“Alhamdulillah
! Wah asmaul husnanya udah ditempel tuh di lemari siap lomba ya?”
“Keren ih
warna andukmu , ana bob marlyne” timpa Mia
“Haha.. Top
kan” Mengacungkan jempol kanannya, melengos pergi dan berdendang .
Welcome to my paradise .. where you can be free.....
***
Terhapus semua
pikiran yang menjejali Zur akan tempat yang penuh pengekangan berbagai aturan. Angker.
Namun Semburat senyum nampak jelas menandakan ia having
fun dan kerasan untuk menuntut ilmu yang ia sebut sebagai penjara suci.
Ilmu agama, dunia, kehidupan. Rasa persahabatan dan toleransi yang tinggi. Usunglah kesepian.
Hanya ditempat inilah ia mendapatkan kebersamaan yang melekat. Makan bersama,
Tidur bersama, Sekolah bersama, Ngaji , sorogan, bandongan bersama, suka duka
bersama, mandi pun bersama. Memang dah Pesantren cinta damai. Sedamai jutaan
butiran air hujan yang menyapa
bumi. Langkah yang tergesa berbaur
dengan kecemasan. Seringkali hampir terjatuh karena licinnya lantai.
“Tok tok, mba bukain mba...” mohon Zur.
Terpampang jelas di pintu musholla terlambat 5 menit tak boleh masuk , namun Zur
tak ingin kedatangannya sia-sia.
Berbaur dengan
santri lain dan mendengar penjelasan sang ustad dengan khusyuk.
Tabasumuka
Shodakotun
Senyummu
itu sodakoh .. maka...............
“ku ingin kau
tersenyum kembali .. Setelah apa yang kau alami .. Hilangkan benci dalam hati
yeiii...”
Pak syamsul
terdiam geram disambut ledakan tawa santri putra dan putri .
“Nembang opo
sampean ? Sampean sing tadi terlambat masuk kan?”
“Lagunya
steven coconuterz pa... ii....iiya pak” tunduk Zur
Pak syamsul
memberi isyarat khusus dan terekam baik dalam otak Zur. Mengangkat badan menuju
pojok tembok, dan tersenyum selebar-lebarnya yang ia miliki walaupun terpaksa.
Suasana kembali tenang. Disela sela ketenangan nampak wulan cekikikan mendapati
surat yang diterimanya dari santri putra lewat papan pembatas.
Langkah gontai
dan tubuh yang lemas membuat cacing cacing perut zur berdemonstran. Cepat
menuju tempat catering dan tercengang. Mulutnya sempurna membentuk bulatan yang
sangat lebar ,melihat kerumunuan santri yang berebut gilir untuk mendapatkan
jatah ayam buatan bu catering yang katanya sangat enak tiada tanding.
*****
Binder kecil
bercover colour reggae menarik sosok santri maskulin. Mengernyitkan dahi.
“Ini punya
siapa ? namanya ... ZURIATI
MARKOTOP ????” Ucapnya aneh dengan
keras.
Seluruh isi
perpustakan spontan tertawa geli. Tangan Zur cepat merebut benda yang
dicari-carinya. Menunduk malu. Seribu langkah tersimpul, menghilang. Kegundahan
lagi-lagi membuat cacing di perutnya bergoyang ke kanan ke kiri, lapar.
Disodorkan piring kepada bu catering.
“Aduhh maaf
mba Zur, makanannya sudah habis “
Spontan
kepalanya mendongak dan semburat di wajahnya perlahan memelas.
“AAAAA..
Bener-bener penjare . Aye kan udah bayar disini, laper aye laper ........”
Keluh Zur
“Kehabisan
katering? Ini makan bareng bareng , lagi diet “ ajak Mia
Senyum
terkembang dibibir Zur. Tak sadar air matanya pun berlinang.
“Oalaaaah...
Markotop Markotop” Celoteh anak –anak .
****
Usai
musyawarah, Zur merasa angin berhembus sangat tak bersahabat. Tak ada cahaya
bintanag begitu juga sahutan jangkrik. Mendadak jantungnya berdegup cepat.
Dilihatnya para pembimbing termasuk mba aisyah di dalamnya masuk dan keluar
kamar. Salah satunya mengenggam beberapa
HP, mengamankan. Atagfirullah, Razia !!
Keberuntungan
berpihak pada Zur, terhindar dari razia dadakan semalam. HP-nya dititipkan di
sebuah kedai makanan. Hampir setiap kali zur makan di kedai ini saat lauk
catering tak menggugah seleranya. Di kedai ini pula ia sering menjumpai sosok
maskulin yang semula membuatnya kagum kini berubah jadi benci. Tapi keajaiban
meluluhkan hati Zur. Cowok itu terus memperhatikan Zur dan memperhatikannya
tanpa kedip. Tatapan dua sejoli pun
mulai berkontraksi.
Apabila Cinta
ada di hati yang satu
Pasti juga
Cinta ada di hati yang lain
Karena Tangan
yang satu
Takkan
bertepuk
Tanpa tangan
yang lain
*****
Zakiyyah lari
tergopoh gopoh menuju kamar Zur dengan senyum terkembang. Menggoyang goyangkan tubuh Zur sambil
berlonjak lonjak.
“Zur Zuuuur ada reggae Zur. Entar
malem, di alun-alun . Nonton konser Zur”
“Beneran ya ??
Iye .. Iyee.. Tapi aye jangan di goyang
goyang begini pan pusing aye”
Zakiyyah dan
zur serta yang lainnya bergegas. Menggunakan rangkap pakaian dan mengendap ngendap
keluar .
Alun alun kota
memang indah di malam hari. Terlebih dalam moment tahun baru yang dilengkapi
music reggae. Komunitas pecinta music reggae setanah air membanjiri alun alun
kota. Para rastamania merapat, bergoyang ke kanan dan kiri menyatu dalam alunan
musik. Damai.........
****
Para
pembimbing dan pengurus mengabsen setiap kamar dan beberapa diantara mereka
termasuk Zur telah tercatat dalam agenda hitam. Berjalannya waktu, Zur dan
kawan lainnya mengendap-endap masuk ke dalam pesantren dengan basah kuyup
keringat yang nampak jelas di pakaian mereka. Zur membuka mata, merasakan
percikan air di wajahnya. Memasuki kamar mba aisyah, duduk termangu. Pikirannya
melayang, berputar.
“Zur, kamu
tahu kan. Kamu sudah dititipkan sama ibumu kepada Nyai untuk menuntu ilmu di
pesantren ini, supaya akhlakmu baik. Ibumu juga mempercayaimu kepada mba.
Memang apa toh niat awal kamu kesini?”
“eemmm... Zur
pengen nuntut ilmu mba, supaye akhlahnye karimah, pengen mbagain enya babe mba.
Pengen jadi pejabat mba.. “
“pejabat? Terserah
kamu bercita-cita apa tapi satu pesen mba, dadi santri sing tenanan nggeh ...”
Zur jatuh
tersungkur. Asma-asma allah terus membasahi bibirnya, mengisi jiwanya dengan
kekuatan Al-Qur’an. Bersama Bintang malam yang memancarkan kerlipnya, dan sang
rembulan dengan sinar terangnya. Angin malam melambangkan kesejukan hati zur
sekarang. Hening dan gelap.
“Kawan,
ingatkah niat kita pertama menginjak penjara suci ini?
“Niat kita
semua 1 menuntut ilmu . Agama, dunia serta akhirat. Menanamkan akhlakul karimah
juga supaya orang tua bangga. Pastilah kita remaja yang diharapkan masyarakat”
tukas devi
“Terus apakah
kita pantas disebut santri kalo tingkah laku kita kaya gini? Same aje kaya
pergaulan di luar sana? Menyalahi aturan ! “
“ Ya engga
lah. Seharusnya kita bisa menyesuaikan diri kita terutama dengan lingkungan.
Seharunya kita dapat melibas nafsu. Menjaga pandangan. Santun, prihatin.
Menjaga perkataan. Mencintai busana santri , mematuhi aturan Allah !”
Semua terdiam,
butiran air mata penyesalan berbaur dengan keheningan malam.
“Aye minta
maaf, aye rasa aye udah dapet pencerahan. Kawan, kite ini kader harapan bangse.
Man jadda wajada. Young today leader tomorrow. Kite kan remaje kite harus
menjadikan al qur’an seperti minyak wangi, kemane-mane kita pake. Kite selalu
haruuuum. Kalo al qur’an ada di hati kite, assunah juge hadist insya allah deh
ngalir sama tingkah laku kite. Kejujuran, senyum, toleransi, tanggung jawab,
kita hiasi kehidupan dengan ilmu. Inget kawan sekarang sangat dibutuhkan
Walikota, Gubernur, DPR, Para
pejabat-pejabat yang santri, bahkan seorang Presiden yang santri !” urai zur
“Top ! Emang
bener dah”
“Oalah Markotop Markotop. Zuriati Markotop
“...
Matahari
melenggang. Degup jantung Zur beserta kawannya menderu kencang. Kompetisi. Kekompakan
dalam setiap jiwa menyatu .
Almusta’anul
sami’u mujibu
Inna
da’au nakastajib amiina ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar