Selasa, 17 April 2012

Markotop di Penjare Suci


Markotop di Penjare Suci
Bismiilahi bawihi badana
Walau ‘abadnaa ghoiru lasyaqina
Wahabadza muhammadun hadina.....
Lantunan indah asmaul husna terdengar lirih terekam dalam microfon. Kalimat suci yang menggema, mengaagungkan namaNya. Memecahkan keheningan. Burung-burung pun turut berdzkir disertai sirine kokokan ayam jago memberi code bagi para santri dan manyarakat bhwa tanda fajar akan tiba.
Banguun......Ayo Banguuuuun.........Subuuuhh !!!!
Suara teriakan sang pengurus ibadah menggema ke seluruh penjuru. Dari pintu ke pintu setiap kamar di gedornya, membangunkan para santri yang masih nyaman bermain dengan mimpinya.
Semuanya dengan sigap mengambil air wudhu. Bagi yang bangunnya kesiangan tak akan dapat bermanja-manja dengan sejuknya air pagi hari, bahkan mereka harus lari terbirit-birit sebelum kumandang adzan terakhir selesai. Begitulah peraturan dalam pesantren ini. Seluruh santri harus berada dalam mushollahnya untuk berdzikir bermunajah kepada Sang Illahi sambil menunggu sholat berjamaah dimulai. Dan mereka yang masih berleha-leha tentu akan di ta’zir. Bagi mereka tempat  ini adalah penjara suci.
                                                                                ***
Jum’at pagi yang cerah. Lantunan suci surah yasin pun telah usai. Sang waktu terusbergulir, hingga  sirine pengurus kebersihan pun berguncang .
ROAN.......ROAAAAAAANNNNNNNN........ AYO ROAAAAAAAAN !!!
Suaranya terdengar nyaring lewat munasah besar itu. Urutan nama disebutnya satu persatu, tersusun secara teratur. Jadwal absen kegiatan roan sebagai bukti bahwa para santri mencintai dan selalu menjaga kebersihan persantrennya. Dimulai dari dari menyapu halaman, membersihkan seluruh kamar mandi, tempat menjemur, mushollah dan terutama kamar mereka sendiri.
“Zur...Zuurr ...... Kamu lihat Zur tidak  ? Zuriati ?”
“Tidak mba Aisyah, memang siapa ? .” Jawab kedua santri itu kompak, sambil memperhatikan mba aisyah yang masih celingukan.
Tinggi semampai berkerudung biru dengan paras yang tidak teramat cantik namun dengan hidungnya yang melebar membuat dirinya terlihat lebih anggun. Menenteng tasnya. Tatapannya fokus terhadap mas-mas pembawa catering yang mengantarkan sarapan pagi bagi santri putri.
“Oalah Zuuur... Kamu ngapain disitu ? Sini naik !” Tugas mba aisyah
Dengan sigap langkah kaki none betawi itu menaiki anak tangga.
“Wulan, Mia. Ini adik sepupuku pindahan mau mondok disini. Kamarnya bersama kalian ”
“kenalin aye zuriati ...”
                                                                                ****
“ Akhirnya dah beres semuanye” Leganya sambil mengusap butiran keringat yang mengucur di dahinya.
“Alhamdulillah ! Wah asmaul husnanya udah ditempel tuh di lemari siap lomba ya?”
“Keren ih warna andukmu , ana bob marlyne” timpa Mia
“Haha.. Top kan” Mengacungkan jempol kanannya, melengos pergi dan berdendang .
Welcome to my paradise .. where you can be free.....
***
Terhapus semua pikiran yang menjejali Zur akan tempat yang penuh pengekangan berbagai aturan. Angker. Namun Semburat senyum nampak jelas menandakan ia having fun dan kerasan untuk menuntut ilmu yang ia sebut sebagai penjara suci. Ilmu agama, dunia, kehidupan. Rasa persahabatan dan  toleransi yang tinggi. Usunglah kesepian. Hanya ditempat inilah ia mendapatkan kebersamaan yang melekat. Makan bersama, Tidur bersama, Sekolah bersama, Ngaji , sorogan, bandongan bersama, suka duka bersama, mandi pun bersama. Memang dah Pesantren cinta damai. Sedamai jutaan butiran air hujan  yang menyapa bumi.  Langkah yang tergesa berbaur dengan kecemasan. Seringkali hampir terjatuh karena licinnya lantai.
Tok tok, mba bukain mba...” mohon Zur. Terpampang jelas di pintu musholla terlambat 5 menit tak boleh masuk , namun Zur tak ingin kedatangannya sia-sia.
Berbaur dengan santri lain dan mendengar penjelasan sang ustad dengan khusyuk.
Tabasumuka Shodakotun
Senyummu itu sodakoh .. maka...............
“ku ingin kau tersenyum kembali .. Setelah apa yang kau alami .. Hilangkan benci dalam hati yeiii...”
Pak syamsul terdiam geram disambut ledakan tawa santri putra dan putri .
“Nembang opo sampean ? Sampean sing tadi terlambat masuk kan?”
“Lagunya steven coconuterz pa... ii....iiya pak” tunduk Zur
Pak syamsul memberi isyarat khusus dan terekam baik dalam otak Zur. Mengangkat badan menuju pojok tembok, dan tersenyum selebar-lebarnya yang ia miliki walaupun terpaksa. Suasana kembali tenang. Disela sela ketenangan nampak wulan cekikikan mendapati surat yang diterimanya dari santri putra lewat papan pembatas.
Langkah gontai dan tubuh yang lemas membuat cacing cacing perut zur berdemonstran. Cepat menuju tempat catering dan tercengang. Mulutnya sempurna membentuk bulatan yang sangat lebar ,melihat kerumunuan santri yang berebut gilir untuk mendapatkan jatah ayam buatan bu catering yang katanya sangat enak tiada tanding.
                                                                                *****
Binder kecil bercover colour reggae menarik sosok santri maskulin. Mengernyitkan dahi.
“Ini punya siapa ? namanya ...  ZURIATI MARKOTOP  ????” Ucapnya aneh dengan keras.
Seluruh isi perpustakan spontan tertawa geli. Tangan Zur cepat merebut benda yang dicari-carinya. Menunduk malu. Seribu langkah tersimpul, menghilang. Kegundahan lagi-lagi membuat cacing di perutnya bergoyang ke kanan ke kiri, lapar. Disodorkan piring kepada bu catering.
“Aduhh maaf mba Zur, makanannya sudah habis “
Spontan kepalanya mendongak dan semburat di wajahnya perlahan memelas.
“AAAAA.. Bener-bener penjare . Aye kan udah bayar disini, laper aye laper ........” Keluh Zur
“Kehabisan katering? Ini makan bareng bareng , lagi diet “ ajak Mia
Senyum terkembang dibibir Zur. Tak sadar air matanya pun berlinang.
“Oalaaaah... Markotop Markotop” Celoteh anak –anak .
                                                                                ****
Usai musyawarah, Zur merasa angin berhembus sangat tak bersahabat. Tak ada cahaya bintanag begitu juga sahutan jangkrik. Mendadak jantungnya berdegup cepat. Dilihatnya para pembimbing termasuk mba aisyah di dalamnya masuk dan keluar kamar. Salah satunya mengenggam  beberapa HP, mengamankan. Atagfirullah, Razia !!
Keberuntungan berpihak pada Zur, terhindar dari razia dadakan semalam. HP-nya dititipkan di sebuah kedai makanan. Hampir setiap kali zur makan di kedai ini saat lauk catering tak menggugah seleranya. Di kedai ini pula ia sering menjumpai sosok maskulin yang semula membuatnya kagum kini berubah jadi benci. Tapi keajaiban meluluhkan hati Zur. Cowok itu terus memperhatikan Zur dan memperhatikannya tanpa kedip.  Tatapan dua sejoli pun mulai berkontraksi.
Apabila Cinta ada di hati yang satu
Pasti juga Cinta ada di hati yang lain
Karena Tangan yang satu
Takkan bertepuk
Tanpa tangan yang lain
                                                                                *****
Zakiyyah lari tergopoh gopoh menuju kamar Zur dengan senyum terkembang.  Menggoyang goyangkan tubuh Zur sambil berlonjak lonjak.
“Zur Zuuuur ada reggae Zur. Entar malem, di alun-alun . Nonton konser Zur”
“Beneran ya ?? Iye .. Iyee.. Tapi aye  jangan di goyang goyang begini pan pusing aye”
Zakiyyah dan zur serta yang lainnya bergegas. Menggunakan rangkap pakaian dan mengendap ngendap keluar .
Alun alun kota memang indah di malam hari. Terlebih dalam moment tahun baru yang dilengkapi music reggae. Komunitas pecinta music reggae setanah air membanjiri alun alun kota. Para rastamania merapat, bergoyang ke kanan dan kiri menyatu dalam alunan musik. Damai.........
                                                                                ****
Para pembimbing dan pengurus mengabsen setiap kamar dan beberapa diantara mereka termasuk Zur telah tercatat dalam agenda hitam. Berjalannya waktu, Zur dan kawan lainnya mengendap-endap masuk ke dalam pesantren dengan basah kuyup keringat yang nampak jelas di pakaian mereka. Zur membuka mata, merasakan percikan air di wajahnya. Memasuki kamar mba aisyah, duduk termangu. Pikirannya melayang, berputar.
“Zur, kamu tahu kan. Kamu sudah dititipkan sama ibumu kepada Nyai untuk menuntu ilmu di pesantren ini, supaya akhlakmu baik. Ibumu juga mempercayaimu kepada mba. Memang apa toh niat awal kamu kesini?”
“eemmm... Zur pengen nuntut ilmu mba, supaye akhlahnye karimah, pengen mbagain enya babe mba. Pengen jadi pejabat mba.. “
“pejabat? Terserah kamu bercita-cita apa tapi satu pesen mba, dadi santri sing tenanan nggeh ...”
Zur jatuh tersungkur. Asma-asma allah terus membasahi bibirnya, mengisi jiwanya dengan kekuatan Al-Qur’an. Bersama Bintang malam yang memancarkan kerlipnya, dan sang rembulan dengan sinar terangnya. Angin malam melambangkan kesejukan hati zur sekarang. Hening dan gelap.
“Kawan, ingatkah niat kita pertama menginjak penjara suci ini?
“Niat kita semua 1 menuntut ilmu . Agama, dunia serta akhirat. Menanamkan akhlakul karimah juga supaya orang tua bangga. Pastilah kita remaja yang diharapkan masyarakat” tukas devi
“Terus apakah kita pantas disebut santri kalo tingkah laku kita kaya gini? Same aje kaya pergaulan di luar sana? Menyalahi aturan ! “
“ Ya engga lah. Seharusnya kita bisa menyesuaikan diri kita terutama dengan lingkungan. Seharunya kita dapat melibas nafsu. Menjaga pandangan. Santun, prihatin. Menjaga perkataan. Mencintai busana santri , mematuhi aturan Allah !”
Semua terdiam, butiran air mata penyesalan berbaur dengan keheningan malam.
“Aye minta maaf, aye rasa aye udah dapet pencerahan. Kawan, kite ini kader harapan bangse. Man jadda wajada. Young today leader tomorrow. Kite kan remaje kite harus menjadikan al qur’an seperti minyak wangi, kemane-mane kita pake. Kite selalu haruuuum. Kalo al qur’an ada di hati kite, assunah juge hadist insya allah deh ngalir sama tingkah laku kite. Kejujuran, senyum, toleransi, tanggung jawab, kita hiasi kehidupan dengan ilmu. Inget kawan sekarang sangat dibutuhkan Walikota, Gubernur, DPR, Para  pejabat-pejabat yang santri, bahkan seorang Presiden yang santri !”  urai zur
“Top ! Emang bener dah”
 “Oalah Markotop Markotop. Zuriati Markotop “...
Matahari melenggang. Degup jantung Zur beserta kawannya menderu kencang. Kompetisi. Kekompakan dalam setiap jiwa menyatu .
Almusta’anul sami’u mujibu
Inna da’au nakastajib amiina ...                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar