Selasa, 17 April 2012

Warkop pingkal


Warkop pingkal

Saat melepas lelah dan menikmati santai takan sempurna tanpa secangkir kopi ataupun segelas teh. Aroma kesegaran dan rasa yang sudah tak asing lagi turut meramaikan suasana. Menyejukan kerongkongan, meredamkan penat, mengharmonikan pandangan setiap mata dan merenyahkan setiap tawa.
Dingin menyelinap di balik gelapnya malam. Gelap gemerlap kehidupan ibukota. Dengan kepadatan penduduk yang terus menjejali pusatnya hingga merempet ke pinggirnya. Guratan-guratan penuaan tampak terlihat jelas di wajahnya. Tangannya sedikit mengeriput dan kondisinya yang semakin menurun, kisut tergambar dalam sketsa. Sketsa sang pencipta. Senyumnya yang sumringah dan keluwesan budinya membuat Bu dar, ya Bu dar namanya, di datangi banyak orang. Meramaikan malam.
Malam terus berganti. Membuang malam yang telah lalu dan menyongsongsong malam selanjutnya. Suara gaduh keroncongan cacing dalam perut terus melengking. Menderitakan para pengidap insomnia, yang mendapati kulkas, lemari, dan meja makan tanpa ada makanan yang tersisa. Nylekit. Tamatlah riwayat bersama malam yang mencekam. Gusar, keluar tunggang langgang penuh harap mencari kedai yang bertuliskan “open”.
Tongkrongan anak muda, kunjungan para tetua. Terpusat, WARKOP BU DAR. Terpampang di keramaian candaan para penikmat secangkir kopi, segelas teh dan sesedap mie instan. Bangunan ini belum lama tegak. Melegakan hati sang pencari , yang sering terkadang menggoyangkan bulu hidung mereka secara spontan. Maklum, Warkop budar yang rame juga terkadang sepi pembeli ini terposisikan di pinggir kali. Namun tak pernah sekalipun menjadi keluhan.
Sudah beberapa hari Warkop Bu Dar tutup. Sepi. Anak muda yang biasa nongkrong terpaksa mencari tempat lain. Para pelanggan dan Para insomnia yang dihantui kelaparan pun terpaksa mengunci rumahnya kembali, kecewa. Namun tak bisa dipungkiri, Tak ada daya untuk membiarkan matanya terus terjaga. Lemas dan tubuh terus menggigil kedinginan.  Tak ada kekuatan. Namun dibalik mukenahnya tangan yang penuh dengan guratan terus menarik lingkaran demi lingkaran tasbih. MengaagungkanNya , memohon perlindungan.
“BU ko lama banget warng kaga buka? Sakit bu ? sakit apa? “ celetuk seorang pemuda
“Biasa penyakit tua “ jawab Budar enteng.
Wajahnya pucat, matanya sayu. Sesekali sesengukan batuknya.  Membuat beberapa pemuda yang biasa nogkrong merasa iba.
“Bu dar tiduran dulu aja, nanti kalo ada yang beli saya bangunin. Saya bantuin deh bu ..gampang..”
Budar hanya tersenyum, tergolek lemah. Ia harus berusaha keras, demi memperoleh rezeki yang halal.  Dengan mengucap nama-Nya, baginya aktivitas menyeduh secangkir teh saja menjadi sedemikian bening bercahaya, sumber mata pencaharian yang mengayomi hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar