Warkop pingkal
Saat melepas lelah dan menikmati
santai takan sempurna tanpa secangkir kopi ataupun segelas teh. Aroma kesegaran
dan rasa yang sudah tak asing lagi turut meramaikan suasana. Menyejukan
kerongkongan, meredamkan penat, mengharmonikan pandangan setiap mata dan
merenyahkan setiap tawa.
Dingin menyelinap di balik
gelapnya malam. Gelap gemerlap kehidupan ibukota. Dengan kepadatan penduduk
yang terus menjejali pusatnya hingga merempet ke pinggirnya. Guratan-guratan
penuaan tampak terlihat jelas di wajahnya. Tangannya sedikit mengeriput dan
kondisinya yang semakin menurun, kisut tergambar dalam sketsa. Sketsa sang
pencipta. Senyumnya yang sumringah dan keluwesan budinya membuat Bu dar, ya Bu
dar namanya, di datangi banyak orang. Meramaikan malam.
Malam terus berganti. Membuang
malam yang telah lalu dan menyongsongsong malam selanjutnya. Suara gaduh
keroncongan cacing dalam perut terus melengking. Menderitakan para pengidap
insomnia, yang mendapati kulkas, lemari, dan meja makan tanpa ada makanan yang
tersisa. Nylekit. Tamatlah riwayat bersama malam yang mencekam. Gusar, keluar
tunggang langgang penuh harap mencari kedai yang bertuliskan “open”.
Tongkrongan anak muda, kunjungan
para tetua. Terpusat, WARKOP BU DAR. Terpampang di keramaian candaan para
penikmat secangkir kopi, segelas teh dan sesedap mie instan. Bangunan ini belum
lama tegak. Melegakan hati sang pencari , yang sering terkadang menggoyangkan
bulu hidung mereka secara spontan. Maklum, Warkop budar yang rame juga
terkadang sepi pembeli ini terposisikan di pinggir kali. Namun tak pernah
sekalipun menjadi keluhan.
Sudah beberapa hari Warkop Bu Dar
tutup. Sepi. Anak muda yang biasa nongkrong terpaksa mencari tempat lain. Para
pelanggan dan Para insomnia yang dihantui kelaparan pun terpaksa mengunci
rumahnya kembali, kecewa. Namun tak bisa dipungkiri, Tak ada daya untuk
membiarkan matanya terus terjaga. Lemas dan tubuh terus menggigil kedinginan. Tak ada kekuatan. Namun dibalik mukenahnya
tangan yang penuh dengan guratan terus menarik lingkaran demi lingkaran tasbih.
MengaagungkanNya , memohon perlindungan.
“BU ko lama banget warng kaga
buka? Sakit bu ? sakit apa? “ celetuk seorang pemuda
“Biasa penyakit tua “ jawab Budar
enteng.
Wajahnya pucat, matanya sayu.
Sesekali sesengukan batuknya. Membuat
beberapa pemuda yang biasa nogkrong merasa iba.
“Bu dar tiduran dulu aja, nanti
kalo ada yang beli saya bangunin. Saya bantuin deh bu ..gampang..”
Budar hanya tersenyum, tergolek
lemah. Ia harus berusaha keras, demi memperoleh rezeki yang halal. Dengan mengucap nama-Nya, baginya aktivitas
menyeduh secangkir teh saja menjadi sedemikian bening bercahaya, sumber mata
pencaharian yang mengayomi hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar